Kondisi banjir di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Kondisi banjir di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Banjir yang menggenangi dua desa di Kecamatan Kesamben, Jombang, sudah berangsur 5 hari. Sejumlah penyakit kini mulai menyerang ratusan warga yang terdampak.

Banjir akibat luapan Sungai Avur Watudakon itu melanda Dusun Beluk, Desa Jombok, dan Dusun Kedondong, Desa Blimbing. Di Dusun Beluk, terdapat 549 jiwa yang terdampak dan di Dusun Kedondong sebanyak 270 jiwa terdampak banjir.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Jombang Abdul Wahab, hingga siang ini ketinggian air di dua desa tersebut berangsur surut. Kendati begitu, masyarakat belum bisa beraktivitas karena akses jalan masih tergenang air.

"Kondisi banjir di rumah warga bisa kita lihat. Sudah ada penurunan hingga 10 sentimeter. Bahkan ada sebagian rumah yang sudah terbebas," jelasnya saat diwawancarai di Dusun Beluk, Kamis (6/2) siang.

Meskipun banjir sudah berangsur surut, ancaman sejumlah penyakit masih menghantui warga setempat. Beberapa penyakit yang mulai mengancam tersebut seperti gatal-gatal, diare, dan sakit mata akibat laptospirosis atau bakteri dari kotoran hewan.

Penyakit gatal-gatal dan diare sudah mulai menyerang warga sejak banjir menggenangi dua desa tersebut. Salah seorang warga Dusun Beluk, Rinarsih (38), menuturkan bahwa dua putrinya telah terjangkit gatal-gatal dan diare.

Putri pertamanya yang berumur 9 tahun mengalami diare sejak Selasa-Rabu kemarin. Sedangkan putri keduanya berumur 4 tahun mengalami gatal-gatal. 

"Kondisi kesehatan keluarga kena penyakit diare dan gatal-gatal. Minggu malam kan banjir. Selasa itu kena diare hingga Rabu. Sekarang sudah sembuh," ujarnya kepada wartawan.

Dikatakan Rinarsih, anaknya tersebut mendapatkan perawatan dari petugas Puskesmas Blimbing yang telah disiagakan di lokasi banjir. Melalui posko kesehatan itu, Rinarsih mendapatkan obat-obatan untuk putrinya yang sakit. "Diobati di puskesmas keliling. Kemarin diberi obat," ungkapnya.

Tidak hanya itu. Ancaman penyakit lain juga dikhawatirkan menyerang warga. Soalnya, pada banjir tahun kemarin, kata Rinarsih, banyak warga yang mengeluhkan sakit mata. Penyakit itu disebabkan bakteri yang bersumber dari tikus.

"Virus tikus itu membawa kuman. Nanti banyak yang sakit mata. Dulu pernah semua warga sini sakit mata semua," ucap Rinarsih.

Sementara, bidan Desa Puskesmas Blimbing Siti Aisyah mengatakan bahwa sudah ada 200 warga yang mengalami gatal-gatal dan diare. Ratusan warga tersebut tercatat sejak awal posko kesehatan dibuka pada Senin (3/2) kemarin. Posko kesehatan berada di rumah kepala Dusun Beluk.

"Rata-rata ya gatal-gatal yang dikeluhkan. Ada yang batuk pilek. Kan berhubungan dengan air ya ini. Dari kencingnya tikus juga, kan bercampur air. Sampai dua ratusan yang sakit," ujarnya.

Aisyah juga membenarkan kalau ada serangan virus dari tikus yang siap mengancam warga pasca banjir surut. Tikus-tikus tersebut membawa bakteri yang menimbulkan penyakit laptospirosis. Penyakit ini mengakibatkan mual, demam dan pusing.

"Pasca banjir itu penyakit yang ditimbulkan dari tikus. Biasanya nyeri di seluruh tubuh, hingga sakit mata," katanya.

Untuk saat ini, penyakit yang disebabkan oleh tikus ini belum ditemukan. Untuk memastikan adanya laptospirosis, lanjut Aisyah, dibutuhkan diagnosis dari Dinas Kesehatan terlebih dahulu.

"Kalau tahun kemarin, sampai ada kunjungan dari provinsi untuk dilaborat. Itu yang tahun kemarin. Sekarang masih kami pantau," pungkasnya.